home

PALESTINA TERKINI

Terjemah

HARI “MENCEKAM” PERNIKAHAN (Bab 3)



BAB 3a
Pagi itu sang mentari mengintip dari balik pepohonan. Kicauan burung-burung mengiringi cahaya putih terang menyapa daun-daun jendela rumah di kampung salak, condet tepatnya disebuah rumah sederhana milik paman dari pemuda Abdulrohman Rakyato nama lengkapnya.
“Sudah siap …!? “ Jerit sang paman mengintrogasi.
“Sudah paman…” jawab calon mempelai pria dengan suara lirih. Nampak sedikit ketegangan dari raut wajahnya.
“Oh ya… mahar yang kau rencanakan sudah disiapkan ?”
“Sudah …. Alhamdulillah!”
“Mari kita berangkat!”
Dua mobil kijang yang membawa keluarga dan calon mempelai pria serta satu metromini yang didalamnya berdesakkan sanak keluarga meluncur beriringan menuju rumah calon mempelai wanita. Diperjalan kijang rover yang ditumpangi Rakyato sempat mogok. Karena anak laki-laki di mobil itu hanya calon mempelai pria dan seorang lagi adalah pamannya sendiri dengan terpaksa sang pengantin yang telah necis itu turun tangan mendorong kuda besi beroda empat berwarna biru tua, tapi tak tega pamannyapun turun setengah mendorong sambil memegang setir dan Alhamdulillah kendaraan itu nyala kembali. Sesampainya diwilayah calon mempelai wanita lagi-lagi terjebak macet serta berpisahnya rombongan besan minibus atau metromini yang membuat saling tunggu menunggu di pinggir jalan.

Ijab Qobul (BAB 3b)

Akhirnya rombongan besan sudah lengkap bersatu kembali dan tiba tepat didepan rumah Rakyati yang disambut oleh tangan-tangan mungil menabuh rebana marawis dari santriwan santriwati Taman Pandidikan Al Qur’an (TPA) tempat Rakyati mengajar. Satu persatu tuan rumah menyambut para tamu dengan penuh kehangatan. Setelah semua personil menempati duduk yang telah disediakan, acara segera dimulai lewat suara MC membacakan susunan acara secara tertib. Rakyato yang didampingi pamannya  duduk sila diatas karpet empuk berdampingan dengan calon mertua yang sudah siap menikahkan anaknya.
“Baiklah ijab qobul akan segera kita laksanakan” Ucap Pak Penghulu memimpin acara inti.
“Saya nikahkan kamu dengan putriku Rakyati binti Usman dengan mas kawin setengah gram perak tunai” ucap wali nikah dengan suara tegas.
“Saya terima nikahnya Rakyati binti Usman dengan mas kawin setengah gram perak tunai” sambut Rakyato tak kalah tegas sahutannya.
“Sah, para saksi …” Tanya pak penghulu kepada Hadirin.
“Sah,… sah,… sah…”Para hadirin menjawab bergemuruh.
Rakyato dipersilahkan untuk menandatangani buku nikah. Para juru foto dan kameramen silih berganti mengabadikan moment bersejarah itu.
Usai ijab qobul, pasangan baru suami istri ini nampak sangat bergembira tersungging senyuman bibir mereka. Rakyati meraih tangan suaminya dengan lembut, digenggamnya dengan erat dan dicium punggung tangan hitam kecoklatan milik suami pujaannya itu sambil meneteskan air mata kesyukuran, seraya berucap:
 “Bimbinglah aku mencari Ridho Allah SWT;  wahai Suamiku…”
“Insya Allah, Isrtiku …”
Terdengar sayup-sayup nasyid pernikahan dibalik kerumunan besan menyalami pasangan bahagia ini. Ada yang tersenyum manis sambil menatap dalam. Ada yang tak tahan pula ikut-ikutan meneteskan air mata haru. Dan bait-bait syairnya yang dipopulerkan oleh team nasyid “The Brothers” dari negri Jiran seperti dibawah ini :

Selama ini ku mencari-cari teman yang sejati buat menemani perjuangan suci
Bersyukur kini pada-Mu Ilahi teman yang dicari selama ini telah kutemui
Dengannya disisi perjuangan ini senang diharungi bertambah murni kasih Ilahi
Kepada-Mu Alloh ku panjatkan do’a agar berkekalan kasih sayang kita
Kepadamu teman teruskan perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan
Telah ku-ungkapkan segala-galanya itulah tandanya kejujuran kita
Kumencari-cari teman yang sejati buat menemani perjuangan suci
Ho.. Ho.. Ho…

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Posting Komentar

Posted by Indonesi on 21 April 2015

Follow by Email and Facebook

<"http://www6.cbox.ws/box/?boxid=685322&boxtag=87eh9b&sec=main">
Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di Tamu 1 x 24 jam harap lapor !!! KLIK DISINI